Jumat, 27 Mei 2011

Situbondo sebagai Tempat Pelatihan Internasional Perikanan 4 Warga Afrika

Isu ketahanan pangan merupakan salah satu tantangan yang dihadapi oleh masyarakat Internasional saat ini. Sektor perikanan telah memberikan kontribusi yang signifikan terhadap produksi pangan. Upaya-upaya untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas perikanan sangat penting untuk memperoduksi pangan yang lebih banyak dan lebih baik. Letak Geografis Indonesia yang dikelilingi laut sangat memungkinkan untuk mengembangkan tehnologi rekayasa genetik di bidang perikanan, salah satu lembaga yang berhasil dalam pengembangan produksi ikan adalah Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Situbondo. Jenis ikan yang dibudidayakan di lembaga ini adalah udang Vanamei dan Ikan Kerapu. Sedang laut yang membentang di sebelah utara wilayah Situbondo adalah kurang lebih sepanjang 157 km dari Banyuglugur hingga Banyuputih. Kondisi tersebut yang menjadikan Situbondo sebagai salah satu penghasil ikan terbesar di Jawa Timur setelah Muncar, Banyuwangi.
Keberhasilan budidaya udang dan ikan kerapu menarik perhatian negara-negara Afrika, hal itu membuat mereka tertarik untuk berlajar tehnologi budidaya udang dan ikan kerapu terutama jenis ikan kerapu tikus yang menjadi produk unggulan lembaga yang berada dalam naungan Kementrian Kelautan dan Perikanan tersebut. Ketertarikan negara-negara Afrika tersebut direspon positif oleh Kementrian Kelautan (KKP) bekerjasama dengan Kementrian Luar Negeri dengan menyelenggarakan International Training Program for Afrikan Countries on Marine Fisheries di Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Situbondo pada tanggal 9-14 Mei 2011.
Pelatihan tersebut merupakan bentuk komitmen Indonesia untuk membantu pembangunan sesama negara berkembang khususnya negara-negara Afrika dalam rangka Kerjasama Selatan-Selatan. Keberhasilan Indonesia daalm pengembangan perikanan merupakan salah satu kapasitas unggul Indonesia yang telah diakui secara luas di seluruh dunia. Dengan berbagai prestasi dan capaiannya, saat ini Indonesia bermaksud meningkatkan peran aktifnya dalam pengelolaan bidang tersebut di dunia melalui pencalonan Dr. Indriyono Soesilo, Sekretaris Menko Kesra sebagai Direktur Jenderal FAO.
Pelatihan yang diikuti oleh 4 peserta asing dari negara Ghana, Sudan dan Tanzania tersebut merupakan bagian dari rangkaian pelatihan yang diselenggarakan untuk negara-negara Afrika pada bulan Mei 2011.  Selama pelatihan, para peserta akan mempelajari budidaya ikan kerapu, manejemen benih, pakan dan kesehatan ikan serta melakukan praktek langsung di laboratorium dan kolam pembenihan serta field trip. Diharapkan melalui pelatihan ini, para peserta dapat meningkatkan kapasitasnya sehingga bisa diaplikasikan di negaranya masing-masing.
Pelatihan dibuka secara resmi oleh  Direktur Kerjasama Tehnik Pelaksana Departemen Luar Negeri Hendri Samosir dan penyematan tanda peserta dan pemberian tas kerja  kepada  4 peserta dari ketiga negara tersebut oleh Kepala BBAP Situbondo Dr. Slamet Subjakto, M.Si. Hadir pula dalam acara pembukaan tersebut utusan dari Dinas Kelautan dan Perikanan kabupaten Situbondo. Selanjutnya para peserta meninjau kolam pembenihan ikan kerapu didampingi oleh Koordinator Training BBAP Bambang Hanggono. S.Pi, M.Sc.
Menurut Prince Dugah salah satu peserta dari Ghana dalam wawancaranya mengaku sangat senang mengikuti pelatihan ini, apapun yang didapat selama pelatihan sangatlah berguna bagi pengembangan sektor perikanan di negaranya. Indonesia telah berhasil mengembangkan tekhnolgi budidaya ikan kerapu dengan kualitas terbaik di dunia. Sebagai sesama negara berkembang, Ghana perlu banyak belajar dari Indonesia dalam pengembangan budidaya perikanan. Prince juga mengatakan bahwa ikan adalah sumber makanan yang sehat dan alami karena hampir tidak mengandung terkontaminasi oleh zat-zat kimia berbahaya seperti daging sapi dan ayam.Prince bersama seorang rekan se negaranya Gabriel Obeng Manu serta Agnely Lishela warga Tanzania dan Hafiz Hasan Ibrahim warga Sudan akan berada di Indonesia selama satu minggu untuk mengikuti pelatihan perikanan tersebut.
Koordinator Training Bambang Hanggono, S.Pi dalam keterangannya mengatakan bahwa tujuan diadakannya pelatihan Internasional ini adalah untuk mengaplikasikan kerjasama antar negara-negara berkembang di bidang peningkatan pangan khususnya sektor perikanan. BBAP tidak hanya menggelar pelatihan di dalam negeri, namun juga berencana mengirimkan tenaga-tenaga ahli perikanan ke luar negeri untuk menyebarkan tehnologi budidaya ikan. BBAP sendiri mampu memproduksi 100.000 ekor benih ikan kualitas unggul dalam setahun. Produksi ikan yang menjadi primadona adalah jenis Ikan Kerapu Tikus dengan tujuan ekspor ke Malaysia , Vietnam dan negara-negara Afrika, diharapkan juga nantinya juga lebih meluas lagi hingga ke Eropa dan Amerika.

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Grants for single moms