Rabu, 08 Juni 2011

Temuan Air Terjun di Banyuglugur

Sebuah air terjun yang baru ditemukan warga dan belum diberi nama ini direncanaka akan dijadikan tempat pariwisata di Kecamatan Banyuglugur, Situbondo, Jawa Timur (Jatim). Dengan Kondisi Kecamatan Banyuglugur yang merupakan daerah pegunungan kepanjangan dari pegunungan Argopuro, memiliki topografi yang memiliki potensi adanya air terjun yang menjadi nilai tambah bagi pengembangan pariwisata di Situbondo.
Menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi pemerintah daerah untuk mengembangkan potensi wisata ini, dengan beberapa langkah pembenahan dan kegiatan promosi sehingga ke depannya menjadi salah satu peluang untuk memunculkan lowongan pekerjaan baru bagi masyarakat sekitar.

Batu Kodok di Besuki, Menarik untuk Dikunjungi!!!

Kumpulan batu besar yang salah satunya berbentuk lonjong seperti kodok sedang diam. Berada di tikungan jalan di wilayah Besuki, Situbondo, Jatim dalam kondisi miring namun tidak pernah bergeser apalagi jatuh walaupun tanah disekitarnya adalah tebing curam.
Kondisi Batu yang begitu unik tersebut, cukup mengundang para pengguna jalan untuk berhenti sejenak sekedar memperhatikan keunikan batu tersebut. Dengan bentuk seperti kodok tersebut merupakan keindahan tersendiri dan merupakan hasil dari ekosistem alam yang ada di daerah tersebut.

Si Bosi, Peniru Suara Hewan Asli SItubondo

Ini dia insan Situbondo yang mulai dikenal di Indonesia dengan keahliannya menirukan suara hewan. Bosi, itu nama panggilannya, telah diundang acara salah satu stasiun Televisi swasta di Jakarta untuk dapat mempertontonkan keahlian tersebut di depan kamera dan disaksikan jutaan pemirsa se-Indonesia.
Warga Situbondo yang bertempat tinggal di jalan Anggrek ini, memiliki keahlian khusus dengan menirukan banyak suara hewan seperti burung, kuda, anjing, dan masih banyak lagi. Selamat untuk Bosi dengan keahliannya dan semoga dapat dimanfaatkan serta memperkenalkan Kabupaten Situbondo.
Untuk mengetahui suara Bosi dengan aneka suara hewan, Silahkan klik disini.

Jumat, 03 Juni 2011

Pelabuhan Jangkar

Jangkar adalah salah satu pelabuhan yang ada di Situbondo. dan merupakan pelabuhan utama sebagai tempat berlabuhnya kapal transportasi laut. Kamu bisa melihat obyek wisata yang menarik di antara yang lainnya dengan tujuan pelayaran Situbondo ke Kalianget, Madura. Kemudian anda juga dapat melihat mercusuar disini. 
Bagi yang suka akan libuaran ataupun refresing, juga terdapat pantai yang indah sebagai tempat berenang dan berjemur. Bagi yang suka memancing, disini merupakan tempat yang cocok di samping Dermaga Cinta di Panarukan untuk menghabiskan waktu liburan sesuai hobi kalian.
Pada bagian barat dari pelabuhan, kamu akan melihat aksi dari ikan-ikan. Jika kamu ingin ikan segar anda dapat membelinya disini dan jangan lupa makanan khas di tempat ini yaitu Ikan Bakar Asapnya. Pelabuhan Jangkar berlokasi di Kecamatan Asembagus, Situbondo, di 10 km dari timur pusat Kabupaten Situbondo.





Rabu, 01 Juni 2011

Sejarah Singkat Hari Jadi Kabupaten Situbondo (HARJAKASI)

Penelusuran  Hari Jadi Kabupaten Situbondo berlangsung  melalui proses kajian yang cukup panjang melibatkan seluruh stakeholder, baik   sejarawan, pelaku sejarah, akademisi, pejabat pemerintah maupun kalangan wakil rakyat. Dengan asistensi pakar dari  lembaga Perguruan Tinggi  serta peran aktif Kelompok Peduli Budaya dan Wisata Daerah Jawa Timur, Badan Perencanaan Pembangunan Kabupaten, menerbitkan Buku Quo Vadis Hari Jadi Kabupaten Situbondo, yang memuat tonggak-tonggak terpenting dan monumental, sekaligus argumentasi akademik yang memadai terhadap peristiwa-peristiwa bersejarah mulai masa pra kolonial, masa penjajahan, masa kemerdekaan dan pasca kemerdekaan  sebagai bahan pendalaman sejarah lokal.


Berdasarkan fakta sejarah Kabupaten Situbondo berawal dari Panarukan.  Nama Panarukan yang pada masa  sebelumnya disebut POERBOSARI merupakan Kota pelabuhan untuk perahu kepulauan sekitarnya. Setelah Orang Portugis  berlabuh dan berakulturasi dengan penduduk lokal, pada Tahun 1580 mereka mendirikan benteng pertahanan untuk menimbun barang dagangannya, seperti lada dan cengkeh yang dibawa dari kepulauan Maluku.  Daerah tersebut  menjadi tempat menaruh ( Panarukan ) barang orang-orang Portugis, sehingga penduduk setempat lambat laun memberi nama PANARUKAN.

Pada Masa Hindia Belanda, dalam rangka meningkatkan stabilitas pemerintahannya telah diangkat beberapa Bupati, diantaranya di wilayah ujung timur adalah Bupati Bondowoso dan Bupati Panarukan. Bupati Pertama adalah Raden Tumenggung Ario Surjo Amidjojo yang memiliki nama kecil Kanjeng Pandu.  Beliau adalah putra Bupati Pribumi I Besuki yang memerintah Panarukan dari Tahun 1850-1859.

Bupati saat itu merupakan pejabat tertinggi dalam pemerintahan birokrasi pribumi, yang membawahai para Wedhana. Dalam menjalankan roda pemerintahan ia dibantu oleh seorang Patih Kabupaten yang berkedudukan di Situbondo. Hingga Tahun 1910  wilayah Kabupaten Panarukan terbagi menjadi 4 Kawedhanan, Yaitu Situbondo, Panaroekan, Prajekan dan Soemberwaroe. Pada akhir pemerintahan Kolonial Belanda  terjadi perubahan cakupan kekuasaan dari Kabupaten Panarukan. Distrik Besuki yang dalam Keputusan pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1901 masuk dalam wilayah Kabupaten Bondowoso,   pada Tahun 1931 masuk dalam daftar wilayah Kabupaten Panarukan. Sejak itu, Panarukan terdiri dari Distrik Besuki, Distrik Panarukan, Distrik Situbondo dan Distrik Sumberwaru.

Nama Panarukan sangat dikenal berdasarkan penemuan sumber sejarah sejak lama. Sebagai tempat persinggahan para pedagang sejak Zaman Portugis, Panarukan menjadi ramai, bukan saja para pedagang tetapi juga para pelancong dan bahkan hingga Tahun 80-an nama Panarukan masih banyak dikenal oleh masyarakat luar daerah. Ketika Kabupaten Panarukan berdiri, terutama setelah Masa kemerdekaan, berbagai aktifitas pemerintahan dan hubungannya dengan pihak luar diselenggarakan di Distrik  Situbondo.

Berdasarkan kenyataan tersebut dan dengan pertimbangan untuk kepentingan kelancaran jalannya roda pemerintahan seiring dengan perkembangan kemajuan daerah, maka nama dan tempat kedudukan Pemerintah Daerah Kabupaten panarukan diubah dan dipindahkan dari Panarukan ke Situbondo pada Era Bupati K. Achmad Tahir Hadisoeparto Tahun 1972. Kegiatan pemerintahan dengan nama resmi  Situbondo berawal pada tahun tersebut, yang secara yuridis formal  dibuktikan dengan dokumen sejarah sebagaimana  tertera dalam Peraturan pemerintah Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 1972 Tanggal 19 September 1972 tentang Perubahan nama dan Pemindahan Tempat Kedudukan pemerintahan Kabupaten Panarukan menjadi  Kabupaten Situbondo dengan tempat Pemerintahan di Situbondo. Sebagai konsekuensi dari diterbitkannya Peraturan pemerintah tersebut maka sejak tanggal 19 September 1972 terjadi perpindahan jalannya roda pemerintahan dan pembangunan secara resmi dari Panarukan  ke  Situbondo.

Hari Jadi  merupakan tonggak sejarah dimulainya  pemerintahan suatu daerah, yang  akan dikenang sepanjang hayat sebagai sumber motivasi bagi masyarakat dalam menapak kehidupan yang adil, sejahtera dan berdaya saing, lebih-lebih  dalam paradigma kehidupan pemerintahan yang desentralistik di Era Otonomi Daerah saat ini.Sebagai sebuah identitas yang menjadi kebanggaan masyarakat, Hari Jadi suatu daerah  adalah muara dalam menggalang solidaritas, rasa memiliki dan rasa cinta terhadap daerah sehingga mendorong kreatifitas  masyarakat untuk berkarya dan membangun demi kemajuan daerah.

Dalam Konteks ini, setelah bertahun-tahun menjadi pertanyaan berbagai kalangan, pada Hari Rabo Tanggal 12 Agustus 2009 terjadi peristiwa monumental  dalam upaya penelusuran sejarah Kabupaten Situbondo.  Itulah saat dimana penetapan Hari jadi Kabupaten Situbondo mendapat persetujuan  bersama  eksekutif dan legislatif.Dalam suatu  Rapat Paripurna DPRD, Wakil Bupati SItubondo, Drs.H. Suroso, M.Pd bersama Ketua DPRD Drs. H. Aqiq Zaman, dihadapan para pejabat pemerintah dan  segenap wakil rakyat yang hadir saat itu menyetujui ditetapkannnya  Peraturan Daerah Kabupaten Situbondo Nomor 6 Tahun 2009 tentang Hari Jadi Kabupaten Situbondo (HARJAKASI). Perda tersebut selanjutnya dituangkan dalam Lembaran Daerah Kabupaten Situbondo pada  tanggal 18 Agustus 2009.Setelah melalui proses pembahasan  secara seksama dalam Rapat DPRD dan mempertimbangkan referensi yang  direkomendasikan oleh para pakar dan peneliti yang melakukan tugas penelitian  selama hampir 2 tahun, DPRD dan pemerintah Daerah menyepakati Hari Jadi Kabupaten Situbondo jatuh pada Tanggal 19 september 1972.

Dengan  ditetapkannya Hari Jadi Kabupaten Situbondo pada tanggal 19 September 1972 semoga menjadi motivasi bagi masyarakat untuk meningkatkan kecintaan dan kebanggaan terhadap daerah, khususnya dalam meningkatkan daya saing daerah  di Era Otonomi Daerah, dengan terus meningkatkan kreatifitas menggali potensi daerah dalam berbagai sektor pembangunan, termasuk  pembangunan seni budaya dan pariwisata  yang dapat dijadikan identitas daerah Situbondo sebagai daerah yang Sehat, Aman, Nyaman, Tertib, Rapi  dan Indah sesuai Motto Daerah “SANTRI”.Situbondo, 19 September 2009.

Jumat, 27 Mei 2011

Kripik Ikan Khas Situbondo,,, Boleh Dicoba!!!

KERIPIK singkong atau tempe pasti sudah kerap kita nikmati. Namun bagaimana dengan keripik ikan kunir? Keripik ini begitu renyah alias kriuk-kriuk di lidah dan akan membuat Anda ketagihan menyantapnya.
Adalah Umi Kulsum (45), warga Desa Paowan, Kecamatan Panarukan, Situbondo, yang pertama kali memperkenalkan keripik ikan kunir. Dinamakan ikan kunir, karena ikan laut segar jenis mangla berwarna kuning kemerahan ini mirip warna kunir atau kunyit. Dari ikan kunir itulah, Umi Kulsum membuat keripik yang kini menjadi ikon Situbondo atau oleh-oleh khas dari Kota Santri ini.
Rasa keripik kunir gurih, enak, dan renyah sehingga sangat diminati, terutama para pelancong dari luar kota yang kebetulan singgah di Situbondo. Untuk Anda yang juga ingin menjadikannya buah tangan, keripik ikan kunir bisa dibeli di berbagai rumah makan atau outlet makanan khas Situbondo.


Umi Kulsum menjelaskan bahan dan bumbu yang dipakai untuk membuat keripik ikan kunir yang renyah dan gurih, di antaranya tepung beras, bawang putih, kencur, kunir, ketumbar, garam, air kapur, dan sedikit gula. Sebelum dijadikan keripik, ikan terlebih dahulu disayat bagian perutnya untuk dibuang tulang dan kotorannya.
Setelah dibersihkan dengan air, mulailah ikan dicampur dengan adonan tepung berikut bumbu-bumbu yang sudah di persiapkan. Selanjutnya, ikan digoreng hingga sekira 30 menit.
Agar keripik tidak berminyak, hasil gorengan kemudian dimasukkan ke mesin pemampat minyak. Setelah selesai, keripik pun siap dikemas dan ditimbang untuk kemudian dipasarkan.
Setiap 250 gram keripik ikan kunir, Umi mengaku menjualnya dengan harga Rp11 ribu. Dalam satu hari, ia mampu memroduksi hingga 50 kilogram ikan atau setara dengan 90 bungkus keripik ukuran 250 gram.

Disamping itu pula di Desa Paowan, selain Umi Kulsum ada 2 pengusaha lagi yang  memproduksi kripik ikan diantaranya Ibu Yuyun dan satunya lupa namanya (hehehe)...
So, boleh dicoba kuk kripik ikannya dan dijamin ketagihan.

Situbondo sebagai Tempat Pelatihan Internasional Perikanan 4 Warga Afrika

Isu ketahanan pangan merupakan salah satu tantangan yang dihadapi oleh masyarakat Internasional saat ini. Sektor perikanan telah memberikan kontribusi yang signifikan terhadap produksi pangan. Upaya-upaya untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas perikanan sangat penting untuk memperoduksi pangan yang lebih banyak dan lebih baik. Letak Geografis Indonesia yang dikelilingi laut sangat memungkinkan untuk mengembangkan tehnologi rekayasa genetik di bidang perikanan, salah satu lembaga yang berhasil dalam pengembangan produksi ikan adalah Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Situbondo. Jenis ikan yang dibudidayakan di lembaga ini adalah udang Vanamei dan Ikan Kerapu. Sedang laut yang membentang di sebelah utara wilayah Situbondo adalah kurang lebih sepanjang 157 km dari Banyuglugur hingga Banyuputih. Kondisi tersebut yang menjadikan Situbondo sebagai salah satu penghasil ikan terbesar di Jawa Timur setelah Muncar, Banyuwangi.
Keberhasilan budidaya udang dan ikan kerapu menarik perhatian negara-negara Afrika, hal itu membuat mereka tertarik untuk berlajar tehnologi budidaya udang dan ikan kerapu terutama jenis ikan kerapu tikus yang menjadi produk unggulan lembaga yang berada dalam naungan Kementrian Kelautan dan Perikanan tersebut. Ketertarikan negara-negara Afrika tersebut direspon positif oleh Kementrian Kelautan (KKP) bekerjasama dengan Kementrian Luar Negeri dengan menyelenggarakan International Training Program for Afrikan Countries on Marine Fisheries di Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Situbondo pada tanggal 9-14 Mei 2011.
Pelatihan tersebut merupakan bentuk komitmen Indonesia untuk membantu pembangunan sesama negara berkembang khususnya negara-negara Afrika dalam rangka Kerjasama Selatan-Selatan. Keberhasilan Indonesia daalm pengembangan perikanan merupakan salah satu kapasitas unggul Indonesia yang telah diakui secara luas di seluruh dunia. Dengan berbagai prestasi dan capaiannya, saat ini Indonesia bermaksud meningkatkan peran aktifnya dalam pengelolaan bidang tersebut di dunia melalui pencalonan Dr. Indriyono Soesilo, Sekretaris Menko Kesra sebagai Direktur Jenderal FAO.
Pelatihan yang diikuti oleh 4 peserta asing dari negara Ghana, Sudan dan Tanzania tersebut merupakan bagian dari rangkaian pelatihan yang diselenggarakan untuk negara-negara Afrika pada bulan Mei 2011.  Selama pelatihan, para peserta akan mempelajari budidaya ikan kerapu, manejemen benih, pakan dan kesehatan ikan serta melakukan praktek langsung di laboratorium dan kolam pembenihan serta field trip. Diharapkan melalui pelatihan ini, para peserta dapat meningkatkan kapasitasnya sehingga bisa diaplikasikan di negaranya masing-masing.
Pelatihan dibuka secara resmi oleh  Direktur Kerjasama Tehnik Pelaksana Departemen Luar Negeri Hendri Samosir dan penyematan tanda peserta dan pemberian tas kerja  kepada  4 peserta dari ketiga negara tersebut oleh Kepala BBAP Situbondo Dr. Slamet Subjakto, M.Si. Hadir pula dalam acara pembukaan tersebut utusan dari Dinas Kelautan dan Perikanan kabupaten Situbondo. Selanjutnya para peserta meninjau kolam pembenihan ikan kerapu didampingi oleh Koordinator Training BBAP Bambang Hanggono. S.Pi, M.Sc.
Menurut Prince Dugah salah satu peserta dari Ghana dalam wawancaranya mengaku sangat senang mengikuti pelatihan ini, apapun yang didapat selama pelatihan sangatlah berguna bagi pengembangan sektor perikanan di negaranya. Indonesia telah berhasil mengembangkan tekhnolgi budidaya ikan kerapu dengan kualitas terbaik di dunia. Sebagai sesama negara berkembang, Ghana perlu banyak belajar dari Indonesia dalam pengembangan budidaya perikanan. Prince juga mengatakan bahwa ikan adalah sumber makanan yang sehat dan alami karena hampir tidak mengandung terkontaminasi oleh zat-zat kimia berbahaya seperti daging sapi dan ayam.Prince bersama seorang rekan se negaranya Gabriel Obeng Manu serta Agnely Lishela warga Tanzania dan Hafiz Hasan Ibrahim warga Sudan akan berada di Indonesia selama satu minggu untuk mengikuti pelatihan perikanan tersebut.
Koordinator Training Bambang Hanggono, S.Pi dalam keterangannya mengatakan bahwa tujuan diadakannya pelatihan Internasional ini adalah untuk mengaplikasikan kerjasama antar negara-negara berkembang di bidang peningkatan pangan khususnya sektor perikanan. BBAP tidak hanya menggelar pelatihan di dalam negeri, namun juga berencana mengirimkan tenaga-tenaga ahli perikanan ke luar negeri untuk menyebarkan tehnologi budidaya ikan. BBAP sendiri mampu memproduksi 100.000 ekor benih ikan kualitas unggul dalam setahun. Produksi ikan yang menjadi primadona adalah jenis Ikan Kerapu Tikus dengan tujuan ekspor ke Malaysia , Vietnam dan negara-negara Afrika, diharapkan juga nantinya juga lebih meluas lagi hingga ke Eropa dan Amerika.

Rabu, 25 Mei 2011

Sukorejo Islamic Center


SEJARAH PONDOK

Pesantren yang berdiri di Sukorejo ini, pada awalnya adalah sebuah hutan lebat. Setelah mendapat saran dari Habib Musawa dan Kiai Asadullah dari Semarang, Kiai Syamsul Arifin, sebagai pendiri pondok, segera membabat hutan lebat tersebut sekitar tahun 1908 untuk mendirikan pesantren. Dipilihnya hutan yang banyak dihuni binatang buas tersebut, berdasarkan hasil istikharah . Kini pesantren tersebut telah menjadi agen pembangunan bagi masyarakat sekitarnya. Sosoknya tidak seperti œmenara gadingâ, tetapi justru terbuka dan menyatu dengan masyarakat sekitarnya. Tak heran, kalau masyarakat Situbondo merasakan manfaat atas kehadiran pondok pesantren ini.

Banyak cerita yang mengisahkan pesantren yang memiliki santri 15.000 orang ini. Kiai Syamsul, setelah berhasil mendirikan pondok di tengah hutan Desa Sukorejo mulai banyak didatangi orang. Tanpa dirancang dengan tata ruang, hutan yang semula menyelimuti desa tersebut, mulai dipadati rumah penduduk hingga seperti sekarang ini.

Kiai Syamsul memang terus sibuk membesarkan pondoknya. Namun sebagai kiai yang memiliki visi ke depan, ia juga mengirim kedua anaknya, masing-masing As'ad dan Abdurrahman ke Mekkah Saudi Arabia , untuk mendalami ilmu agama. Hal ini dilakukan karena Kiai Syamsul menginginkan anaknya kelak harus melanjutkan kepemimpinan pondok pesantren.

Kiai As'ad yang menjadi ulama kharismatik sekembalinya ke tanah air, punya andil besar dalam lahirnya Nahdlatul Ulama (NU), sebuah organisasi keagamaan terbesar di Indonesia . Ia terkenal dengan sebutan œmediator berdirinya NU. Karena saat itu, ia yang menyampaikan isyarat samawiyah tentang organisasi para ulama itu dari Kiai Kholil Bangkalan kepada Kiai Hasyim Asy'ari Jombang. Setelah menggantikan kepemimpinan ayahnya yang meninggal tahun 1951, ia pernah menjadi anggota Konstituante.

Di bawah kepemimpinan Kiai As'ad, Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah mengalami perkembangan sangat cepat jika dibanding dengan pondok-pondok yang lain di wilayah Jawa Timur. Sepeninggal Kiai As'ad (1990), kepemimpinan pondok dipegang putranya, KHR Achmad Fawaid. Ia tampil memimpin pondok pada usia 22 tahun. Banyak pihak mengira, sepeninggal Kiai As'ad, Pesantren Sukorejo, sebutan populernya, akan sulit menyerap santri baru. Namun kekhawatiran itu ternyata tidak terbukti. Di bawah kepemimpinan kiai muda ini, ternyata Pesantren Sukorejo terus meroket dengan jumlah santri terus membengkak. Kalau pada zaman Kiai As'ad jumlah santri Salafiyah cuma 5.000 orang pada kepemimpinan Kiai Fawaid membengkak menjadi 15.000 orang.

Pada saat memegang tampuk kepemimpinan pondok, Kiai Fawaid memang masih sangat belia untuk ukuran sebuah pesantren sebesar Sukorejo. Namun kerja kerasnya membuat perkembangan pondok ini jauh melebihi perkiraan orang. Kiai yang selalu berpenampilan rendah diri ini, tak pernah terbawa emosi dalam memimpin pesantren warisan ayahnya.

Ketika Kiai As'ad Syamsul Arifin masih hidup, anak lelaki satu-satunya ini banyak dititipkan kepada kiai besar NU. Maksudnya, tak lain agar ia banyak berguru pada berbagai kiai yang memiliki gaya maupun cara yang berbeda-beda dalam mengelola pesantren. Bagaimana pun, saya tidak akan jauh dari tuntunan Aba kata Kiai Fawaid suatu ketika.

Kiai As'ad Syamsul Arifin yang pernah menjadi mustasyar PBNU selalu mengungkapkan, itu adalah pesantren besar dan pesantren adalah NU kecil. Dengan kata lain, pesantren adalah ciri khas ke-NU-an yang ditandai dengan adanya lembaga, kiai, dan santri plus kitab-kitab kuning. Adalah gagasan dari sang kiai ini pula agar Munas dan Muktamar ke-27 NU (1984) diselenggarakan di pesantren Kiai As'ad di Sukorejo Situbondo Jawa Timur. Kemudian, diharapkan Munas dan Muktamar selanjutnya sebisanya diadakan di lingkungan pondok pesantren.

Kiai As'ad berkeyakinan, NU itu sendiri adalah ikatan ulama dan kiai pondok. Ironis sekali bila orang memimpin NU tapi tak pernah menjadi santri, apalagi kiai, katanya pada suatu ketika. Dan memang, tumbuhnya sebagian besar pondok di negeri ini dapat dikatakan seirama dengan lahirnya ikatan ulama ahlussunnah waljamaah , yang kemudian mendirikan Nahdlatul Ulama itu. Salah satunya adalah Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah di Situbondo Jawa Timur.

Penataan Manajemen

Setelah menggantikan ayahnya mengasuh Pesantren Sukorejo, Kiai Fawaid segera membenahi sistem manajemen pondok sesuai dengan tuntutan zaman. Di antara kebijakan yang diterapkan adalah menerapkan manajemen terbuka. Hal ini terlihat dari penunjukan sejumlah santri yang berprestasi untuk memegang posisi penting di kepengurusan pesantren dan lembaga pendidikan yang ada.

Hasilnya, dalam beberapa tahun terakhir ini, pendidikan Pesantren Salafiyah terus berkembang. Sebagai misal, Ma'had Aly li al- Ulum al-Islamiyah Qism al-Fiqh atau yang lebih dikenal dengan sebutan Ma'had Aly, sebuah lembaga pasca pesantren yang menitikberatkan pada kajian ilmu-ilmu fiqh, berkembang di tangan kiai muda ini. Begitu pula, bangunan fisik pesantren juga mengalami kemajuan yang cukup signifikan. Begitu juga sistem pendidikan berbasisi kompetensi juga mulai diterapkan di pesantren ini.

Pendidikan tinggi yang ada di pesantren ini menyerap sekitar 2.500 mahasiswa. Ada tiga fakultas di bawah naungan Institut Agama Islam Ibrahimy (IAII), yakni Fakultas Tarbiyah, Syariah, dan Dakwah. Di samping itu ada dua akademi dan satu sekolah tinggi, yaitu Akademi Perikanan (Aperik), Akademi Manajemen Informatika dan Komputer (Amik), dan Sekolah Tinggi Ilmu Perawat (Stiper). Juga ada Program Pascasarjana dengan Konsentrasi Manajemen Pendidikan Islam (MPdI) dan Konsentrasi Metodologi Istimbat Hukum Islam (MHI).

Tenaga pengajar IAII antara lain Prof. KH. Ali Yafie, Prof. Dr. KH. Sjeichul Hadi Permono, SH MA, Prof. Dr. Simanhadi Widyo Prakosa, Prof. Dr. Ridwan Nasir, MA, Prof. KH Abdul Halim Muhammad, SH, Dr. Ibrahim Bafadal, MA, HM Moerad baso, MBA, MSc, PhD, dan sejumlah nama lainnya. IAII dan Ma'had Aly sering mengadakan seminar dan sarasehan keislaman, dengan mengundang sejumlah cendikiawan dan birokrat dari Jakarta . Ma'had Aly dalam menjalankan program-programnya menjalin mitra kerja sama dengan lembaga lain. Antara lain Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) Jakarta , LkiS Jogyakara, Lakpesdam NU, JIL Jakarta, dan ISIS Jakarta.

Perkampungan Pesantren

Pesantren Sukorejo yang menempati areal seluas 11,9 Ha merupakan perkampungan tersendiri. Pedukuhan Sukorejo hampir semuanya untuk area kegiatan pesantren. Lembaga pendidikan yang dikembangkan di pesantren ini mulai dari taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi. Bahkan bengkel, kebun, perumahan ustadz/dosen, puskesmas, dan pertokoan, menempati lahan pesantren. Mulai Madrasah Aliyah (kurikulum Depag) sampai SMA/SMK (kurikulum Diknas) menempati areal pesantren yang ditumbuhi nyiur yang rindang.

Selain itu, berbagai keterampilan seperti pertukangan, otomotif, pertanian, dan koperasi tumbuh pesat di kalangan para santri yang berdatangan dari berbagai daerah mulai dari Aceh sampai Papua. Seperti Taman Mini Indonesia Indah (TMII), semua suku hampir terwakili di sini, komentar seorang santri dari Jakarta . Bahkan menurut catatan pengurus pondok, siswa dari Singapura , Malaysia , dan Brunai Darussalam juga belajar di Salafiyah.

Berapa santri harus membayar biaya pendidikan di Pesantren Salafiyah? Biaya pendidikan di pesantren ini, dikenal dengan sebutan Uang Tahunan Pesantren (UTAP), yang dihitung selama setahun dan tergantung tingkat pendidikan. Utap berkisar antara Rp 120.000 sampai Rp 375.000 dan masih bisa diangsur. Namun pesantren ini juga memberikan beasiswa kepada anak yatim dan mereka yang tidak mampu. Pemberian beasiswa itu ditentukan oleh pengurus pondok, berdasarkan kriteria yang sudah diatur.

Fasilitas yang disediakan pesantren kepada para santri antara lain: bangunan asrama, listrik, air serta pendidikan yang dipilihnya. Di samping itu pendidikan non formal, seperti kajian-kajian kitab kuning dan beberapa kursus. Selebihnya, seperti mencuci dan pemenuhan kebutuhan sehari-hari dapat dilakukan santri sendiri atau melalui koperasi yang juga mengelola konsumsi para santri. Konon, koperasi pondok ini setiap tahun mendapat keuntungan Rp 350 juta.

Menjaga jarak

Walaupun Kiai As'ad telah tiada, toh banyak pejabat yang bertandang ke Pesantren Salafiyah. Dalam sebuah wisuda sarjana S1, Drs Mar'ie Muhammad (saat itu masih menjabat Menteri Keuangan) pernah memberikan ceramah ilmiah. Melihat sambutan spontanitas ribuan santri yang berkerumun dengan tetap bersikap santun. Mar'ie yang disertai pakar ekonomi Drs. Kwik Kian gie bertutur, Ini baru arus bawah, bukan rekayasa arus bawah.
Para Gubernur Jawa Timur dan Pangdam V/Brawijaya juga sering berkunjung ke pondok ini. Ini menunjukkan bahwa Pondok Sukorejo terbuka, kata KHR Achmad Fawaid. Menurutnya, tidak hanya tamu-tamu biasa seperti umumnya sering silaturrahim ke pondok, yang resmi seperti para pejabat dan jenderal pun datang meninjau ke pondok.

Pondok Sukorejo memang dekat dengan pejabat, namun tetap menjaga jarak. Karena itu bisa dipahami bila kemudian, setiap Pemilu pondok ini jadi œlangganan para petinggi parpol agar mendukung konsestan tertentu. Toh tak pernah berhasil. Mengapa? Kami akan meneruskan sikap Aba , bahwa seorang nahdliyin (warga NU) harus berpegang khittah ashliyyah yakni khittah 26 itu, ujar Kiai Fawaid. erserah mereka untuk memilih salah satu kontestan. Itu bukan tanggung jawab kami, lanjutnya.

Sikap netral Pondok Sukorejo itulah yang barangkali justru membuat respek baik œarus bawah maupun arus atas pada kiai dan pondok. Karena itu, bila ada pihak tertentu yang ingin silaturrahim, pengasuh pondok ini tetap menerimanya. Silakan tapi ingat jangan mengikat, kata kiai muda ini.

Poo Tong Biaw

Poo Tong Biaw adalah salah satu tempat agama yang memiliki nilai sejarah tinggi di Kabupaten Situbondo. Candi ini terletak di kota Besuki, sekitar 2 km dan 35 km dari pusat kota Situbondo.  Ia memiliki banyak ornamen Cina di kamar, sehingga menjadi salah satu yang menarik dari candi ini.
Candi kesamaan telah ditemukan di Bali. Anda dapat menemukan beberapa candi Budha seperti Poo Tong Biaw di tempat pasangan di Bali.

Orang yang ingin berdoa atau merayakan ulang tahun Buddha sangat sering mengunjungi kuil Buddha. Hal ini memiliki karakteristik sendiri sebagai candi Buddha. dan lainnya Buddha marah Banyak peralatan untuk berdoa, tersedia di sini.



 

Berburu Madu Lebah di Hutan Baluran

Hutan Baluran di Desa Wonorejo, Kecamatan Banyuputih, Situbondo terkenal sebagai obyek wisata Taman Nasional (TN). Rupanya, hutan itu juga berpotensi sebagai tempat ternak lebah yang menghasilkan madu.

Di salah satu sudut lahan hutan Baluran tampak berjejer ribuan kotak boks terbuat dari kayu triplek berukuran 40x25 cm dengan tinggi sekitar 30 cm. Kotak-kotak itu berjumlah sekitar 1.500 boks.

Rupanya boks-boks itu milik salah satu pembudidaya dan pemburu madu lebah di kawasan hutan Baluran, Rizal (26) warga Desa Sumber Anyar, Kecamatan Banyuputih. Rizal pun menceritakan pengalamannya seputar perburuan lebahnya.

Selama memelihara madu di hutan Baluran, Rizal mengaku lahan itu tidak disewakan oleh Perhutani. "Ya kami paling memberi jatah madu jika saatnya panen. Itu pun bukan karena perhutani yang minta, tapi sebagai tanda terima kasih kami sudah diberi tempat menumpang untuk mencari lebah," tandasnya.

Dia mengaku sudah 10 tahun menekuni pekerjaannya sebagai peternak lebah dibantu Razak. Sejak saat itu Rizal mengaku sudah berburu lebah hingga ke daerah Jawa Barat. "Kalau saat ini biasanya hutan Baluran tempatnya lebah, kami setiap tahun selalu berpindah untuk mencari lebah," kata Rizal kepada detiksurabaya.com sembari menabur makanan ke dalam boks, Minggu (9/5/2010).

Rizal mengaku selalu memberi makan lebah berupa gula dan sedikit air setiap 3 hari selama enam bulan. Tiap boks lebah menghabiskan sekitar 500 gram gula dalam tiga hari. "Sampai bulan Juni nanti kami masih terus memberi makanan, baru 6 bulan berikutnya sudah saatnya panen," tutur Rizal.

Jika sudah saatnya panen, setiap boks bisa menghasilkan sekitar 2 hingga 3 liter madu dalam setiap 2 minggu sekali. Sementara bila madu dijual ke pengepul di Malang dan Surabaya, harga 1 liter madu seharga Rp 37 ribu.

Dirinya akan mencari lahan baru untuk berburu madu lebah jika kandungan tepung sari
yang ada di tumbuhan sekitar hutan sudah mulai mengurang. Biasanya hal itu bisa diketahui dengan populasi lebah di sarang yang mulai mengurang. Lebah-lebah dalam boks itu akan pergi mencari tempat baru yang banyak mengandung tepung sari sebagai bahan penghasil madu.

Bila lebah sudah mulai berkurang, saat itulah Rizal harus angkat kaki untuk mencari lokasi baru yang banyak mengandung sari bunga atau tepung sari.

Kata Prof. Dr. Indroyono Soesilo: Situbondo Sebagai Tempat Pelatihan Ikan Laut Dunia???

Sebagian besar dari 925 juta penduduk dunia yang masih hidup dalam kelaparan berada di wilayah Kelompok Negara G-77, dan kita harus merubah kondisi ini.

Hal itu disampaikan kandidat Dirjen FAO dari Indonesia, Prof. Dr. Indroyono Soesilo, saat memaparkan Visi dan Misi FAO Masa Datang di hadapan anggota delegasi Kelompok Negara G-77 di markas Badan Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), Roma, Italia, Jumat (20/5/2011).

Pemilihan Dirjen FAO akan berlangsung pada 26/6/2011 di Roma, pada Konperensi FAO ke-37 dan akan diikuti oleh 192 negara-negara anggota FAO, demikian Minister Counsellor Pensosbud KBRI Roma Musurifun Lajawa kepada detikcom malam ini.

Prof. Indroyono memaparkan bahwa wilayah Asia pertumbuhan ekonominya paling tinggi di dunia, namun ternyata lebih dari 400 juta penduduknya masih hidup kelaparan.

"Oleh sebab itu melalui FAO kerjasama dan kemitraan perlu lebih ditingkatkan. Pengembangan kapasitas dan peningkatan kemampuan sumber daya manusia adalah kunci kebijakan yang harus diusung bersama-sama," demikian Indroyono, yang juga Sekretaris Menko Kesra.

Indroyono mencontohkan pengalaman saat Indonesia meraih Penghargaan FAO atas keberhasilan Swasembada Beras Tahun 1985, maka Indonesia kemudian membangun dua Pusat Pelatihan Pertanian di Tanzania dan Gambia sebagai sarana pengembangan kapasitas dan pelatihan bagi petani dari 27 negara Afrika.

Pusat Pelatihan ini sampai sekarang masih berfungsi baik, bahkan terus direvitalisasi. Selain itu ahli-ahli Indonesia saat ini berada di Kenya dan Somalia untuk melatih budidaya perikanan air tawar bagi pembudidaya ikan di kedua negara tersebut.

"Para pembudidaya ikan dari negara-negara Afrika saat ini juga sedang berada di Situbondo dan Sukabumi, untuk pelatihan budidaya ikan laut dan air tawar," papar Indroyono.

Dikatakan, kerjasama dengan negara Amerika Latin dari Kelompok G-77 perlu terus ditingkatkan, terutama di bidang prakiraan perubahan iklim, termasuk antisipasi bencana El Nino dan La Nina, yang diperkirakan akan muncul pada tahun 2012 mendatang.

Lanjut Indroyono, pengalaman Indonesia menanggulangi bencana El Nino 1997, yang mengakibatkan kemarau panjang, kebakaran hutan, dan gagal panen ternyata merubah pola migrasi ikan di Samudera Hindia, sehingga panen ikan justru terjadi di perairan Selatan Jawa dan Barat Sumatera saat El Nino muncul.

"Pola serupa dimungkinkan akan muncul pula di wilayah perairan Peru dan Chili di Amerika Latin," cetusnya.

Para anggota Kelompok Negara G-77 mengharapkan jika Prof. Indroyono kelak terpilih menjadi Dirjen FAO dapat meningkatkan peran kelompok pakar FAO untuk membantu program dan proyek pengembangan kapasitas di negara G-77.

Disamping itu Indroyono juga diharapkan dapat membuat kebijakan peningkatan produksi pangan global serta meningkatkan kemitraan dengan lembaga-lembaga multilateral dan internasional.

Wow! KB Pria di Situbondo Pecahkan Rekor MURI

Rekor peserta KB pria terbanyak dipecahkan Pemkab Situbondo, Jawa Timur. Dalam dua hari, 340 pria mendapat layanan KB medis operasi pria (MOP) atau vasektomi. Rekor ini dicatat oleh Museum Rekor Indonesia (MURI).

"Kegiatan pemecahan rekor MURI pelayanan KB Pria, di Situbondo Jawa Timur pada hari Jumat tanggal 13 Mei 2011, tepatnya di Pendopo Kabupaten Situbondo Jawa Timur, dengan inisiator Pangdam V/ Brawijaya dan Ketua Tim Penggerak PKK Jawa Timur," ujar Humas Badan Koordinasi Keluarga Berencana (BKKBN) Uung Purnama dalam keterangan tertulisnya kepada detikcom, Sabtu (14/5/2011).

Kepala BKKBN Sugiri Syarief dalam keterangan pers itu menilai, kegiatan dukungan pelayanan KB Pria yang dicatat dalam Rekor MURI ini untuk mendorong para Pria agar ikut medukung dan menjadi peserta KB. Karena selama ini diasumsikan urusan KB adalah urusan perempuan.

"Padahal urusan perencanaan keluarga adalah urusan pasangan suami-istri, dan demikian maka maka urusan KB juga urusan suami-istri," ucap Sugiri.

Tahun lalu Kabupaten Situbondo juga merebut rekor MURI dalam bidang yang sama karena memberi pelayanan pada 290 akseptor KB MOP. Terkait kegiatan layanan KB MOP 2011 di Situbondo, BKKBN juga mencatat prestasi dengan memecahkan rekor MURI untuk kategori pemrakarsa pemasangan MOP terbanyak.

BKKBN menilai, selama ini program MOP belum maksimal atau masih sulit karena beberapa hal seperti akses informasi yang terbatas dan salah, pelayanan MOP masih terbatas karena diberikan pada waktu tertentu, dukungan sosial budaya, adanya penafsiran agama dalam pendekatan halal dan haram program MOP, dan sejak otonomi motivasi kerja petugas atau penyuluh masih sangat rendah.

(Sumber) 

Minggu, 22 Mei 2011

Arti Logo Kabupaten Situbondo





Arti Logo

1. Bentuk Lambang Perisai berarti melambangkan pertahanan daerah dan segala marabahaya yang datang dan manapunjuga;
2. Bintang berarti syi'ar Ketuhanan YME yang melambangkan keagungan Tuhan pencipta alam semesta sebagai dasar moral umat beragama masyarakat Situbondo;
3. Gunung dan Langit Putih Menjulang Tinggi berarti melambangkan cita-cita masyarakat Situbondo dengan keteguhan iman dan kesucian hati;
4. Sawah dan Daerah Warna Kuning Emas berarti melambangkan kemakmuran daerah agraris di daerah Situbondo;
5. Laut Biru dan Perahu Layar berarti melambangkan kekayaan laut , daerah pantai, pelabuhan dan paniwisata di daerah Situbondo;
6. Batu Merah bersusun 5 berarti melambangkan kekokohan Dasar Negara Pancasila sebagai dasar moral masyarakat Situbondo dalam menuju keadilan dan kemakrnuran;
7. Butir Padi 17 buah, Kapas 8 buah, Rantai 4 buah, Roda Bergigi 5 buah berarti melambangkan semangat Proklamasi 17 Agustus 1945 untuk mengisi kemerdekaan dengan pembangunan di daerah Situbondo;
8. Pita Putih bertuliskan Kabupaten Situbondo berarti menunjukkan bahwa lambang dalam gambar adalah Daerah Kabupaten Situbondo.



Sumber :
TIKMD (Teknologi Informasi Masyarakat Desa)
TELECENTER PASIR PUTIH
Jalan Raya Pasir Putih
Kecamatan Bungatan
Telp. 0338-39102

Jumat, 20 Mei 2011

Tanian Lanjang

Tanian Lanjang adalah rumah tradisional Kabupaten Situbondo. Secara fisik, Tanian Lanjang adalah rumah sebuah keluarga besar yang memiliki halaman luas. Menurut mitos, ini bertujuan untuk mendidik dan meningkatkan rasa toleransi untuk yang tinggal di sana dalam interaksi satu sama lain. 

Anda dapat menemukan rumah tradisional, khususnya di wilayah timur yaitu Asembagus (sekitar 28 km dari pusat kota ke arah timur), Kapongan (15 km dari pusat kota) dan Mangaran (10 km ke utara dari pusat kota). 


Tanian rumah tradisional Lanjang memiliki arsitektur yang unik. Rumah ini mewakili penghuninya dalam gaya hidup sosialitas. Terbuat dari kayu jati dan dihiasi dengan beberapa ukiran kayu dan interior.

Selasa, 17 Mei 2011

Pesona Pantai Tampora



Pantai Tampora terletak di Banyuglugur Besuki, suasananya cukup tenang. Bisa menjadi pilihan objek wisata akhir pekan :) jaraknya sekitar setengah jam dari terminal Besuki - Situbondo






















Selasa, 10 Mei 2011

Tajin Palappa dan Rujak Petis (-nya Situbondo)

1.Tajin palappa
Situbondo memiliki kuliner khas yakni ”Tajin Palappa“. Kuliner yang terbuat dari bubur dengan bumbu campuran kacang dan campuran bumbu lainnya serta sayur-sayuran ini, sempat pecahkan rekor saat pemecahan rekor makan bersama tajin palapa di alun-alun Situbondo. Selain tajin palapa, Kabupaten Situbondo juga memiliki beberapa kuliner khas lain diantaranya lele bakar yang dapat anda temui di daerah kecamatan Banyuputih perbatasan antara Kabupaten Situbondo dan Banyuwangi, minuman asam yang dapat anda temui di kecamatan Asembagus dan masih banyak lagi kuliner khas Situbondo lainnya. Buruan ke Situbondo dan rasakan nikmatnya Tajin palappa khas Situbondo.
2.Rujak petis

Rujak petis adalah salah satu makanan tradisional yang mudah ditemukan di daerah timur pulau Jawa. Rujak petis biasanya terdiri dari irisan timun, bengkuang, mangga muda, kedondong, tahu, kecambah/tauge, dan kangkung. Semua bahan tadi disajikan dengan siraman resep saus atau bumbu yang terbuat dari olahan petis udang, cabai, kacang tanahbawang goreng, garam, gula merah, pisang muda, dan air. yang digoreng,
Di daerah Jawa Timur, selain petis yang biasa digunakan untuk bumbu Rujak petis, ada juga yang menggunakan petis Madura yang berwarna kemerahan.
Rujak petis biasa disajikan dengan tambahan kerupuk, dan dengan alas pincuk (daun pisang) atau piring.

Sekelumit Sejarah Pelabuhan Internasional Panarukan

Sekelumit Sejarah Pelabuhan Internasional Panarukan, Jawa TimurPanarukan merupakan pelabuhan yang strategis karena terletak di sebelah Pantai Utara Jawa Timur dan sebagai salah satu bandar kuna telah mempermainkan peranannya sejak berabad-abad yang lampau. Pada masa Kerajaan Majapahit Panarukan sangat terkenal sebagai kota pelabuhan di ujung timur Pulau Jawa. Selain diketahui bahwa Hayam Wuruk pernah mengunjungi Panarukan pada tahun 1359 Masehi. Panarukan mempunyai kedudukan lebih penting karena terletak pada tepi jalan perdagangan yang lebih ramai. Ini mungkin menjadi alasan mengapa raja dan petinggi-petinggi Kerajaan Majapahit sering singgah di Panarukan.

Panarukan saat ini merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Situbondo Propinsi Jawa Timur. Secara geografis Kabupaten Situbondo terletak di Pantai utara Jawa Timur bagian timur dengan posisi diantara 7? 35' - 7? 44'LS dan 113? 30' - 114? 42'BT.

Letak Kabupaten Situbondo, di sebelah Utara berbatasan dengan Selat Madura, sebelah Timur berbatasan dengan Selat Bali, sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Bondowoso dan Banyuwangi, serta sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Probolinggo. Luas wilayah Kabupaten Situbondo adalah 1.638,50 Km?. Hampir keseluruhan terletak di pesisir pantai dari Barat ke Timur, bentuknya memanjang kurang lebih 140 km.

Panarukan dahulu merupakan bagian dari Keresidenan Besuki. Pada mulanya nama Kabupaten Situbondo adalah "Kabupaten Panarukan" dengan ibukota Situbondo. Pada masa pemerintahan Belanda oleh Gubernur Jendral Daendels (? tahun 1808-1811 M) membangun jalan dengan kerja paksa sepanjang pantai utara Pulau Jawa yang dikenal dengan sebutan "Jalan Anyer - Panarukan" atau lebih dikenal lagi dengan "Jalan Daendels" atau juga "Jalan Pos".


Panarukan berkembang dengan pesat karena surplus wilayah belakang yang merupakan penghasil ekspor, seperti tembakau, kopi dan tebu. Dengan berkembangnya Panarukan yang begitu pesat, sehingga pada akhirnya pusat pemerintahan berpindah ke Kabupaten Panarukan dengan Raden Tumenggung Aryo Soeryo Amijoyo (1858 - 1872) sebagai Bupati Pertama.

Pada masa pemerintahan Bupati Achmad Tahir (? tahun 1972 M) Kabupaten Panarukan kemudian berganti nama menjadi Kabupaten Situbondo, dengan ibukota tetap di Situbondo, berdasarkan peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 28/1972 tentang Perubahan Nama dan Pemindahan Tempat Kedudukan pemerintah daerah.

Kawasan pelabuhan Panarukan berada di Pedukuhan Pesisir Kilensari Kecamatan Panarukan. Jarak dari pusat kota Situbondo ke lokasi pelabuhan Panarukan kurang lebih 8 km ke arah barat. Lokasi pelabuhan terletak di pinggir laut dan dekat dengan jalan raya sehinggga dapat dijangkau dengan mudah.

Sejak abad XVI Panarukan sudah berfungsi sebagai salah satu kota pelabuhan terkemuka di Jawa Timur. Fungsi pelabuhan Panarukan semakin tampak yakni pada sekitar abad XIX tatkala daerah Jember dan Bondowoso dijadikan sebagai sentra area penanaman cash crop production, khususnya tanaman tembakau, kopi, tebu dan produk-produk perkebunan yang lain. Di pelabuhan Panarukan inilah tempat untuk menimbun, menyimpan dan mengangkut hasil perkebunan ke luar negeri.

Pelabuhan Panarukan didirikan oleh salah seorang Ondemer terkemuka di kawasan Besuki yakni George Birnie pada tahun 1890-an dengan nama Maactschappij Panaroekan. Pelabuhan Panarukan ini pada saat sekarang kondisinya memprihatinkan, karena fungsi pelabuhan dialihkan ke Probolinggo dan Banyuwangi, sehingga banyak tinggalan arkeologis di pelabuhan Panarukan yang dibongkar seperti gudang induk, kantor Djakarta Llyod dan gudang-gudang yang lainnya. Bangunan yang tersisa berupa dermaga kuno, gudang-gudang dan mercusuar. Pada masa dahulu terdapat "tanggang lanjang". Yakni tempat rel trem atau kereta kecil yang menjorok ke laut. Fungsi rel trem ini untuk mengangkut barang dari gudang penyimpanan ke perahu-perahu sebelum diangkut ke luar negeri oleh kapal besar. Bangunan ini panjangnya mencapai 550 M dan lebar 11 M. Bangunan ini terbuat dari bahan beton untuk bagian bawah, sedangkan bagian atas terbuat dari kayu. Pada bagian tengah terdapat rel besi tempat jalan trem pangangkut barang.

Sekelumit Sejarah Pelabuhan Internasional Panarukan, Jawa TimurSelain itu di pinggir pantai terdapat bangunan menara atau mercu suar yang berfungsi sebagai sinyal atau tanda pelayaran. Letaknya di tepi pantai kawasan pelabuhan. Mercu suar tua ini hingga sekarang masih ada, dibuat dari kontruksi besi. Adapun mercu suar itu adalah sebagai tanda kedudukan pelabuhan Panarukan. Tinggi menara ini sekitar 50 M dengan lebar 8 M. Untuk menyinari menara tersebut pada jaman dahulu dipergunakan karbit namun sekarang menggunakan lampu listirk. Di sebelah kanan menara terdapat bekas bangunan kolonial yang berupa perkantoran dan menjadi gedung induk Maasctschappij Panaroekan yang terbuat dari batu bata. Menurut seorang informan dahulu bangunan ini sangat megah berlantai tiga, namun pada saat sekarang bangunan itu sudah tidak ada lagi. Di sebelah kanan dan kiri bangunan induk ini terdapat puluhan gudang tempat penimbunan barang hasil perkebunan sebelum dikirim ke luar negeri. Gudang-gudang ini terbuat dari bahan tembok. Pada bagian bawahnya tidak diberi lantai, namun hanya berlantai bambu. Ukuran gudang-gudang tersebut sangat luas mencapai ratusan meter persegi. Pada masa Belanda dibangun rel kereta api dari stasiun sampai pelabuhan, bahkan di sebelah kanan dermaga dulunya ada rel sampai ujung dermaga. Setelah pelabuhan Panarukan mengalami kemunduran, rel tersebut dicabut, bahkan sampai ke stasiun.

Di pelabuhan Panarukan juga dibangun beberapa galangan atau dok-dok terapung, yaitu tempat untuk memperbaiki kapal. Untuk memuat dan membongkar muatan kapal-kapal merapat ke kade, yaitu suatu pelataran luas, lengkap dengan gudang, alat-alat derek, bahkan rel-rel untuk lori.

Pelabuhan Panarukan mempunyai beberapa gudang, dibagi menjadi dua jenis. Pertama, gudang lini 1 terdiri dari (1) Gudang A ; 1.105 m2, (2) Gudang B ; 867 m2, (3) Gudang C : 2.494 m2, (4) Gudang D : 2.098 m2, (5) Gudang E ; 2.400 m2, (6) Gudang F ; 400 m2, (7) Gudang G ; 600 m2, (8) Gudang I ; 2.700 m2, (9) Gudang K ; 2.000 m2, (10) Gudang L ; 450 m2, (11) Gudang M ; 410 m2, (12) Gudang N ; 2.200 m2, (13) Gudang O ; 6.000 m2 (Anonim, 1981: 50).

Di Panarukan telah dibangun Jalan Raya Pos (Groote Postweg) pada tahun 1808 oleh Gebernur Jenderal Herman Willem Daendels Jalan Raya Pos yang berawal dari Anyer dan berakhir di Panarukan. Pada awalnya dibuat dengan tujuan untuk memperlancar usaha militer Belanda dalam peperangan menaklukkan daerah Blambangan (Banyuwangi). Pada perkembangan selanjutnya jalan yang memanjang dari arah barat ke timur di pesisir utara sangat bermanfaat bagi kelancaran lalu lintas pos, ekonomi dan transportasi.

Selain keberadaan jaringan jalan, keberadaan jalur kereta api di Panarukan turut memperlancar distribusi barang. Stasiun Kereta Api di Panarukan dibangun oleh Belanda sekitar tahun 1890-an. Bangunan ini pada saat sekarang masih utuh, tetapi pada tahun 2003 sudah tidak difungsikan lagi. Struktur bangunan Stasiun Kereta Api Panarukan terdiri atas tiga bagian pertama adalah tempat administrasi, bagian kedua merupakan ruang tunggu penumpang, sedangkan bagian ketiga merupakan tempat pemberangkatan dan pemberhentian kereta api. Jalur kereta api ini merupakan alat transportasi penting bagi pelabuhan Panarukan untuk mengangkut tembakau dari Jember dan Bondowoso ke pelabuhan di Panarukan.

Pada masa pendudukan Kolonial Belanda, di wilayah Kabupaten Panarukan terdapat 12 buah pabrik gula, yaitu Pabrik Gula (PG) De Maas, Assembagoes, Pandjie, Olean, Boedoean, Soekowidi, Prajekan, Tangarang, Bedadoeng, Semboro dan Goenoeng Sarie. Pada saat ini di wilayah Kabupaten Situbondo hanya terdapat enam pabrik gula, yaitu PG De Maas, Assembagoes, Pandjie, Olean, Boedoean dan Wringin Anom, yang tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Situbondo. Dari keenam pabrik gula tersebut empat pabrik gula masih terlihat wujudnya dan masih berproduksi hingga saat ini pabrik gula Assembagus, Olean, Pandjie, Wringin Anom, satu pabrik gula masih berdiri tetapi tidak berproduksi lagi adalah PG Demaas dan satu pabrik gula yang lain adalah PG Boedoean sudah tidak tampak lagi keberadaannya. Keseluruhan pabrik-pabrik tersebut merupakan produsen gula terbesar di Jawa Timur.

Di Panarukan terdapat Benteng VOC yang berada di wilayah Dusun Kilensari Timur, Desa Kilensari, Kecamatan Panarukan. Tinggalan arkeologis yang berupa bekas benteng ini berada di tepi barat Sungai Sampeyan, sekitar 500 m dari muara Sungai Sampeyan sehingga letaknya sangat strategis karena langsung berhadapan dengan laut Jawa. Selain itu benteng VOC ini juga melindungi pelabuhan Panarukan dari wilayah timur, yaitu dari wilayah sungai Sampeyan. Jarak dari pusat kota Situbondo ke lokasi benteng ini kurang lebih 8,5 Km ke arah barat. Untuk menuju lokasi benteng hanya bisa dijangkau dengan kendaraan sepeda motor. Saat ini lingkungan benteng berada di areal pemakaman penduduk dan lahan pertanian masyarakat.

Sekelumit Sejarah Pelabuhan Internasional Panarukan, Jawa TimurDi Panarukan terdapat Tugu Portugis yang terletak di Kota Beddha, Desa Pelean, Kecamatan Panarukan diperkirakan peninggalan abad XVI yakni tatkala Potugis melakukan aktivitas perdagangan di wilayah Nusantara. Tugu Portugis terletak di sebelah timur Sungai Sampeyan. Jarak dari pusat kota Situbondo ke lokasi tugu ? 8 km ke arah barat. Lingkungan sekitar tugu ini sekarang berupa areal persawahan yang terletak di tepi desa.

Menurut masyarakat di sekitar Tugu Portugis ini banyak ditemukan bekas kerang-kerang besar yang menunjukan di sekitar tugu ini dulunya merupakan laut yang mengalami proses sedimentasi demikian cepat karena terjadi pendangkalan di Sungai Sampeyan. Oleh karenanya bisa jadi tinggalan Tugu Portugis ini hanya merupakan sebagaian kecil (paling atas dari bangunan). Melihat bangunannya, tugu ini berfungsi sebagai menara petunjuk bagi pelaut-pelaut, bahwa di tempat ini sebagai tempat pelabuhan.

Beberapa peninggalan arkeologis yang ada sekarang ini, menunjukkan bahwa Panarukan merupakan pelabuhan yang strategis dan kuat. Adanya berbagai fasilitas pendukung menunjukkan bahwa pelabuhan Panarukan sangat berkembang sebagai pelabuhan dagang, dengan adanya surplus dari wilayah belakang yang mendukung pelabuhan Panarukan berkembang. Dengan adanya fasilitas pendukung mengakibatkan pelabuhan Panarukan pada abad XIX dapat berfungsi maksimal, yaitu sebagai pelabuhan perdagangan dan ekspor. Selain itu keletakan pelabuhan yang tepat di tepi jalur pelayaran perdagangan melalui Laut Jawa dan Selat Madura yang dilalui pedagang-pedagang yang menuju ke Maluku sangat mendukung perkembangan pelabuhan untuk menjadi pelabuhan internasional.

Pelabuhan Panarukan letaknya sangat strategis, yaitu pertama terletak di teluk yang merupakan salah satu faktor penting dalam mendukung suatu pelayaran. Kedua pelabuhan Panarukan terletak di jalur pelayaran dari barat menuju ke Maluku di bagian timur dan sebaliknya dari timur ke barat. Ketiga, adanya persediaan air bersih yang dibutuhkan kapal-kapal untuk perbekalan air minum dalam pelayaran jarak jauh. Keempat, wilayah belakang. Panarukan penghasil gula, kopi, tembakau, beras dan terbentang hutan jati yang kayunya berkualitas baik sebagai komoditi perdagangan dan bahan pembutan kapal.

Pelabuhan Panarukan erat hubungannya dengan aktivitas serta perkembangan PT. Djakarta Lloyd sub. Cab Panarukan (dahulu Panaroekan Maatscappij) yang didirikan pada tahun 1886. Maka sejak tahun pendirian tersebut pelabuhan Panarukan sudah dikenal pasaran dunia atau Eropa melalui ekspor komoditi gula, kopi, tembakau, karet dan jagung.

Untuk menunjang berlangsungnya kegiatan perdagangan maka di pelabuhan dilengkapi dengan berbagai sarana pendukung. Pemerintah kolonial mempersiapkan sarana dan prasarana pelabuhan antara lain dibangunnya dermaga, alat Derek (alat pengangkut), lori, gudang-gudang pemerintah dan milik swasta, serta gudang-gudang garam. Pemerintah juga menyediakan berbagai kebutuhan kapal, akomodasi, air bersih, tempat penumpukan untuk barang-barang impor-ekspor, parkiran, menyambung rel kereta api, dan menyediakan gerbong-gerbong, menyambung pipa air, bahan bakar, kabel-kebel listrik, menyediakan tongkang-tongkang, galangan kapal, tempat timbangan umum, penginapan, rumah sakit, dan lain-lain. Untuk mendukung kelancaran administrasi pelabuhan, pemerintah membangun kantor bernama Djakarta Lyiod. Dari persiapan tersebut tampak bahwa Panarukan berfungsi sebagai pelabuhan tempat menyalurkan barang-barang ke berbagai.

Di pelabuhan Panarukan terdapat lori yang menghubungkan stasiun kereta api sampai dermaga, kira-kira sepanjang ? 1 Km. Untuk angkutan tembakau dan kopi dari Jember dan Bondowoso lebih murah dan cepat dengan jasa kereta api sampai Panarukan.

Sejak awal abad XIX pihak pemerintah kolonial menerapkan kebijakan ekonomi the system of onterprice (sistem pembangunan perusahaan atau Industri) sebagai pengganti the cultivation system (sistem pengolahan bahan). Dampak kebijakan politik ekonomi itu menyebabkan banyak berdirinya perusahaan perkebunan. Salah satu daerah yang berkembang sebagai akibat kebijakan itu ialah daerah Bondowoso dan Jember. Kedua daerah ini terletak di bagian pedalaman yang cocok untuk penanaman komoditi ekspor. Namun pada waktu itu permasalahan utama yang dihadapi oleh perusahaan perkebunan ialah sulitnya mengangkut hasil perkebunan ke luar negeri, karena kedua derah tersebut jauh dari pelabuhan. Untuk mengatasi masalah tersebut George Bernie, pemilik NV LMOD (Landbouw Matscapay Out Djember) yakni salah seorang penguasa perkebunan terbesar di daerah ini berinisiatif untuk membangun pelabuhan di Panarukan dan jalur kereta api Jember-Bondowoso-Panarukan. Gagasan untuk membangun pelabuhan Panarukan terealisasi pada tahun 1897 dan jalur kereta api Jember-Bondowoso-Panarukan yang berjarak 98 km dibuka pada tanggal 1 Oktober 1987. Untuk itu Bernie bekerjasama dengan Stoomvaart Matscapien Nederlandsch dengan mendirikan Matscapay Panaroekan. Sejak berdirinya perusahaan pelabuhan ini semua hasil perkebunan yang berasal dari Bondowoso, Jember, Banyuwangi, dan Panarukan sendiri ditimbun di gudang-gudang di sekitar pelabuhan kemudian diangkut dari pelabuhan Panarukan ke luar negeri terutama ke Bremen (Jerman) dan Rooterdam (Belanda).

Penduduk kota Panarukan dan sekitarnya bersifat heterogen. Permukiman suku-suku bangsa Nusantara maupun bangsa lain tumbuh dan telah berkembang sejak zaman dulu. Pada saat sekarang yang ada hanya perkampungan Cina, yang berada di tanjung Pecinan. Namun demikian dalam komposisi nampak sekali bahwa penduduk pribumi yang terdiri dari orang Jawa dan Madura tetap merupakan mayoritas.

Dikutip dari arkeologi.web.id



Kopi Organik Kayumas Situbondo diminati Pasar Internasional

Hasil  pertanian organik memiliki pangsa pasar yang bagus dan harganya relatif lebih mahal. Konsumen middle up, terutama di negara-negara maju seperti Jepang, Eropa, dan Amerika Serikat sangat menghargai hasil pertanian organik, tak terkecuali komoditi kopi arabica organik.
Sayangnya, secara global, posisi Indonesia sebagai eksportir kopi terbesar ketiga dunia, digeser oleh Vietnam, yang baru seumur jagung mengenal perkopian.
 Secara umum, perkebunan kopi rakyat yang ada di Indonesia dikelola secara turun-temurun sejak zaman penjajahan Belanda, termasuk perkebunan kopi yang ada di Jawa Timur. Jenis tanaman kopi yang dikembangkan, terutama Kopi Robusta dan Kopi Arabica. Rasa dan aroma kopi di beberapa daerah di Indonesia sangat spesifik, sesuai kondisi geografis wilayahnya.

Di Kabupaten Malang, khususnya di wilayah Kecamatan Dampit, Kecamatan Ampel Gading, dan sekitarnya yang memiliki ketinggian kurang dari 800 meter dari permukaan laut, berkembang pesat kopi jenis Robusta dengan special taste (rasa istimewa) yang beda dengan kopi Robusta di daerah lain. Sementara, di wilayah Kayumas, Kabupaten  Situbondo, yang umumnya berada di ketinggian di atas 800 meter dari permukaan laut, lebih kuat perkembangan kopi Arabica juga dengan special taste-nya.
Menurut Kepala Dinas Perkebunan (Kadisbun) Provinsi Jawa Timur, Ir. Mohammad Samsul Arifien MMA, yang didampingi Sekretaris Dinas, Drs Djumadi Widodo MM, meski jenis kopi yang ditanam sama, tapi kopi Robusta dari Dampit dan kopi Arabica dari Kayumas sangat berbeda aroma dan rasanya dengan daerah-daerah lain. “Ini karena adanya faktor alam, tanah, dan lingkungan,” jelas Samsul.
Lebih jauh Kadisbun mengatakan, dengan kondisi lingkungan yang relatif terjaga dan minim dari polusi membuat wilayah di Kayumas sangat cocok dijadikan sentra penanaman kopi Arabica -Special ‘T’ (special taste). Disamping area perkebunannya yang berada di atas 1.000 merer dari permukaan laut, juga ditopang kemampuan para petani dalam mengelola kebun kopi Arabica.

Tanaman kopi Arabica memiliki tingkat sensitivitas yang lebih tinggi, dibanding jenis kopi Robusta. Dengan batang dan akar tanaman lebih kecil, serta rentan diserang hama dan penyakit, membuat perawatan tanaman kopi Arabica harus lebih intensif. Kondisi tanah dan tingkat polusi juga sangat mempengaruhi ‘kesehatan’ tanaman.
Sejauh ini, permintaan terhadap kopi jenis Arabica di pasar internasional cukup tinggi. Namun, suplai yang ada masih belum mencukupi. Tentu ini menjadi peluang pasar yang bagus, mengingat di wilayah Kayumas berkembang baik tanaman kopi jenis Arabica. Komposisi tanaman kopi Arabica di Kayumas sangat dominan, hampir 90 : 10 dengan tanaman kopi Robusta.
Nilai plus yang dimiliki para petani di Desa Kayumas, Kecamatan Arjasa, Kabupaten Situbondo, tidak hanya karena mengembangkan tanaman kopi jenis Arabica, tapi juga karena kemampuan mereka mengembangkan pertanian organik. Secara turun-temurun, sebenarnya para petani kopi di Kayumas telah mengenal pertanian organik. Namun, baru beberapa tahun terakhir dikelola secara serius dan dilakukan berbagai penelitian dan standarisasi agar bisa mendapatkan pengakuan di level internasional.
Hasil pertanian organik memiliki pangsa pasar yang bagus dan harganya relatif lebih mahal. Konsumen middle up, terutama di negara-negara maju seperti Jepang, Eropa dan Amerika Serikat sangat menghargai hasil pertanian organik, tak terkecuali komoditi kopi organik. Hal ini yang mendorong para petani di Kayumas semakin serius lagi mengembangkan pertanian kopi Arabica organik.
Saat ini di Desa Kayumas terdapat 72 orang yang menjadi anggota Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) Kopi Arabica Organik “Sumber Kayu Putih” dengan luas lahan mencapai 132,25 Ha. Hanya petani yang memiliki lahan di atas 1 Ha saja yang tercatat di keanggotaan Gapoktan. Sementara, yang memiliki lahan kurang dari 1 Ha tersebar di 6 Sub Kelompok Tani. Bila ditotal seluruh lahan pertanian kopi yang ada di Kayumas, yakni mencapai + 341,25 Ha.
Mayoritas petani kopi di Kayumas menanam jenis Arabica, namun 10% dari luas lahan itu ditanami jenis kopi Robusta. Kopi Robusta ini terutama ditanam di lahan yang berada di dekat jalan utama daerah tersebut, dengan kemiringan di atas 45 derajat. Hal ini karena batang pohon kopi Robusta lebih kuat, dan akarnya menancap ke tanah dan relatif tahan terhadap dampak asap kendaraan. Tanaman ini juga difungsikan sebagai tanaman penguat dan menghindarkan tanah dari erosi. Sama seperti kopi Arabica, tanaman kopi Robusta ini juga dirawat dengan sistem organik.
Menurut Ketua Gapoktan “Sumber Kayu Putih”, H. Sukarwi, para petani sudah menjalankan pertanian kopi Arabica organik secara turun-temurun sejak jaman Belanda. Maka tak perlu heran, mayoritas petani kopi di Kayumas tetap bertahan dengan konsep pertanian organik, dimana mereka menghindari penggunaan berbagai bahan kimia dan pestisida dalam mengelola perkebunan kopinya, baik saat pemupukan maupun memberantas hama dan penyakit. Serta saat pengolahan biji kopi menjadi HS (ada cangkang lunak) atau ose (biji kopi kering).
Untuk pemupukan, petani mengandalkan pupuk kandang yang dicampur dengan pupuk organik atau kompos yang digunakan dengan sangat hati-hati, sehingga tidak sampai tercampur bahan kimia. Karena hal itu akan mengurangi kesuburan tanah sekaligus ‘menjatuhkan’ standar pertanian oganiknya. Sementara, untuk melawan hama, petani sangat mengandalkan musuh alami dari hama tersebut. Seperti dalam melawan serangan nematoda (cacing mikro yang kasat mata), petani menggunakan musuh alaminya Entomopatogen.
Mengingat masih terbatasnya stok pupuk kandang yang dihasilkan dari kotoran ternak kambing di daerah setempat, maka petani harus membeli dari luar daerah Kayumas. Sedangkan campurannya, seperti daun lamtoro atau kulit biji buah kopi yang sudah dikupas, masih cukup tersedia dari daerah setempat.
Lebih jauh H. Sukarwi menuturkan, meski sudah menjalankan pertanian organik secara turun-temurun, namun pengelolaan secara profesional dan melibatkan lembaga penelitian kopi (Puslit Kopi) baru dimulai sejak tahun 2001. Artinya, baru pada tahun 2001 kelompok petani kopi di Kayumas secara mufakat menjalankan pertanian organik yang terorganisir dan sesuai standarisasi internasional.
Tahun 2004 lalu, mereka sudah panen perdana kopi Arabica organik dan dipasarkan dalam bentuk ose (biji kopi kering) di pasar-pasar tradisional setempat. Baru pada tahun 2005, kelompok petani ini menjalin kerjasama dengan PT Indokom Citrapersada di Kabupaten Sidoarjo, untuk menampung hasil panen dari petani kopi di Kayumas. “Sejak tahun 2005 kami sudah menjalin kerjasama dengan Indokom, sehingga semua hasil panen yang dianggap memenuhi standar atau lolos sortir akan ditampung oleh PT Indokom Citrapersada. Dari kami di Kayumas ini, rata-rata mencapai 100 ton per tahun,” jelas Sukarwi.
Sukarwi sendiri memiliki hampir 8 Ha kebun kopi Arabica yang sejak dulu dipertahankan dengan sistem penanaman organik. Sebelum menjalin kerjasama dengan PT Indokom, kopi-kopi itu dipasarkan di pasar tradisional dan dihargai tak jauh dari kopi Arabica non organik.
Tahun 2008, perkebunan Kopi Arabica Organik di Kayumas, terutama dalam Gapoktan “Sumber Kayu Putih” telah mendapat sertifikat produksi dari PT Indokom Citrapersada. Ini sebuah pengakuan terhadap kualitas pertanian organik yang diterapkan kelompok ini, baik dari unsur tanah, sistem penanaman, perawatan, hingga produksi yang dijauhkan betul-betul dari unsur kimia, sesuai standar pertanian organik internasional.
Keunggulan penanaman kopi Arabica organik di Kayumas ini juga mendapat perhatian berbagai pihak, yang ingin belajar tentang standar pertanian organik. Selain staf dari Pengembangan Tanaman Kopi asal Papua Nugini, juga ada Deputy Director Research dari Centra Agriculture Bioscience International Afrika (CABI Afrika), Dr. George I. Oduor.
Oduor mengakui, kualitas kopi Arabica di Indonesia, khususnya dari Kayumas cukup bagus. Aroma dan rasa kopi Arabica organik Kayumas juga diakui bakal mudah diterima pasar internasional, meski belum sebagus kopi Arabica di Kenya. Namun dengan konsistensi mengembangkan kopi Arabica organik sesuai standar internasional, ia yakin Kopi Kayumas akan semakin diperhitungkan di level internasional dan mampu bersaing dengan kopi-kopi Arabica dari hasil pertanian negara lain yang sudah lebih dulu mengukir reputasi di pasar kopi internasional.
Saat ini Indonesia dikenal sebagai negara eksportir kopi terbesar keempat di dunia, di bawah Brazil, Colombia dan Vietnam. Ironisnya, Vietnam yang mulai tahun 2002 menyodok di urutan ketiga, sebelumnya bukan penghasil kopi yang diperhitungkan. Mereka tahu dan banyak belajar tentang pertanian kopi justru dari Indonesia. Kini Indonesia harus berbenah agar 'sang guru' tak selalu kalah oleh 'murid', seperti halnya dengan Malaysia dalam soal kelapa sawit.

Ikan Laut Bakar Asap khas Jangkar

Ikan Bakar asap khas Jangkar Situbondo, adalah salah satu dari tiga tempat favoritku jika sedang terdampar/tugas kantor di asembagus, selain Istana lele dan sate burung dara, untuk kedua witasa kuliner ini akan saya bahas nanti jika sudah bertandang kembali kesana, sekalian tak abadikan fotonya...!!!hehehe

Entah tadi sore pas keberapa kalinya saya merasakan ikan bakar asap tersebut, yang membuat saya tertarik dari cara membakar ikannya, pemilik warung ini menggunakan tungku tradisional berupa tumpukan bata-bata, pembakarannya menggunakan sabut kelapa dan penyangganya pun masih menggunakan pelepah kelapa, sangat tradisional sekali, tetapi ternyata warung yang terletak tepat disamping pintu masuk Departemen Perhubungan Pelabuhan Penyebrangan Jangkar ini cukup dikenal wisatawan-wisatawan domestik, khususnya penggila wisata kuliner dan ikan bakar.


wisata kuliner situbondo : ikan laut bakar asap jangkar
wisata kuliner situbondo : ikan laut bakar asap jangkar
wisata kuliner situbondo : ikan laut bakar asap jangkar
Hasil bakaran ikannya pun sangat lezat dikarenakan membakarnya memanfaatkan asap pembakaran dari kulit kelapa, gak ada sedikitpun api pada proses pembakaran ikan itu, jikapun apinya mulai keluar, pemilik dengan segera akan menyiram api tersebut. ini yang membuat ikan bakarnya tersa beda dengan ikan bakar ditempat-tempat lain, walau pembakaran ikan tersebut tanpa bumbu, ikan hanya dibersihkan, disayat-sayat dan dibuang bagian dalamnya.
wisata kuliner situbondo : ikan laut bakar asap jangkar
Untuk para pembaca yang berkunjung ke situbondo khususnya ke asembagus atau jangkar kurang lengkap rasanya jika tidak berkunjung dan merasakan ikan bakar asap khas jangkar ini. udah dulu ya, jadi ngiler lagi nih pengen ikan bakar asap tersebut.
Disadur dari: http://www.yousaytoo.com

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Grants for single moms